Home

Untuk mengenang

di antaranya Hou, Sun Dan-yong, Ma Xiang-qian, Ning, Lu Xin, Zhu Chen-ming, Liang Chao, Nan Gan, Li Hai, Chen, Liu, Unknown, Wang Ling, Unknown, Cai, Li Rongying, Unknown dan Xu Lizhi

para buruh Foxconn yang padam dengan komitmen bunuh diri[1]

karena kondisi kerja, upah dan tekanan mental yang buruk;

dan juga kepada banyak korban lainya di dunia

akibat brutalitas ekonomi-politik

baik yang terang-terangan maupun bias ilusif.

Anda membaca ini dengan terkoneksi internet.

Dalam dunia dimana manusia punah, selain internet tidak ada, ia juga tidak dapat dilihat atau dikenali. Layar-layar ini tak ubahnya sama dengan batu-batuan. Oleh karena sifat internet melekat pada benda-bendanya, maka di sini akan diuraikan berdasarkan sudut pandang pengguna yang awam soal bagaimana hubungan antar benda-benda menyala tersebut sebagai internet yang banyak digunakan dalam masyarakat.

Secara umum, internet adalah sistem jaringan yang saling terkoneksi (interconnected networks) antar perangkat digital yang tak terhingga jumlahnya di dunia dengan menggunakan paket protokol internet (TCP/IP). Agar internet bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan dalam masyarakat, maka infrastruktur digitalnya mesti dipasang terlebih dahulu sehingga pelayananya bagi pengguna jadi mungkin. Dengan kata lain, penggunaan internet hanya mungkin ada sejauh infrastruktur digitalnya dipasang dan beroperasi.

Infrastruktur digital dapat dibagi ke dalam dua kategori besar: 1) infrastruktur jaringan, dan 2) simpul percabanganya (node). Di dalam kategori infrastruktur jaringan, dua sub-kategori bisa dibuatkan lagi untuk membedakan kekhasan sistem teknologinya: a) kabel dan b) nirkabel. Tower BTS adalah yang termasuk ke dalam infrastruktur jaringan nirkabel—para pengguna internet mobile tentu sudah lebih familiar. Selain tower BTS, teknologi satelit juga termasuk ke dalam kategori nirkabel. Adalah suatu ketidaktahuan di mana saya sendiri awalnya mengira bahwa mayoritas internet global terhubung melalui satelit. Ternyata ini salah besar. Namun saya yakin tidak sendirian karena banyak orang lain yang masih berasumsi demikian. Satelit—dan juga balon internet yang diidamkan pemerintah[2]—hanya digunakan secara khusus bagi wilayah yang terpinggirkan dan juga untuk wilayah luar angkasa. Kalau mayoritas internet global tidak menggunakan satelit, lantas dengan teknologi apakah sehingga para pengguna bisa mengakses misalnya berita-berita di Papua atau berkomunikasi dengan banyak orang di luar AS?

Kabel[3]. Kabel fiber optik adalah teknologi mutakhir yang dominan digunakan untuk internet global saat ini dengan berjejaring di atas benua maupun dalam samudra. Kabel serat optik juga digunakan karena keunggulanya 1) bisa punya ukuran sangat besar dalam perantaraan data dibanding jenis kabel co-axial dan 2) kecepatan cahayanya serupa kilat yang melampaui kecepatan transmisi data melalui tower BTS atau satelit dan lebih rentan terkendala cuaca buruk.

Selain infrastuktur jaringan dengan maupun tanpa kabel dalam kategori pertama infrastruktur digital, kategori keduanya adalah node (simpul percabangan) yang memungkinkan internet bisa menghubungkan para pengguna. Node memiliki fungsinya sebagai rumah IT yang mencakup di dalamnya perlengkapan telekomunikasi mengoperasikan infrastruktur jaringan. Node global dapat dibagi ke dalam tiga sub-bagian: 1) Landing Station, 2) Internet Exhange Point, dan 3) Data Center.

Stasiun pendaratan (Landing Station/LS) adalah stasiun di mana jaringan kabel laut global (sering disebut dengan tulang punggung/backbone internasional) tersimpul di darat dan kembali dicabangkan. Sementara Internet Exhange Point (IXP) merupakan titik jalur pertukaran internet atau transmisi data yang mengantarai para pengguna dalam backbone lokal, regional (domestik) hingga internasional. IXP memiliki kelebihan bisa mempercepat pertukaran data selama para pengguna berada di dalam wilayah cakupannya. Misalnya ketika kirim-kiriman file atau melangsungkan konferen video sesama pengguna se-daerah atau se-pulau (WAN), maka data para pengguna tidak perlu harus jauh-jauh memutar berlama-lama dulu ke Kanada atau Eropa dengan backbone internasional akibat platform yang digunakan servernya berada di sana namun sudah dipersingkat oleh IXP. Dengan begitu, IXP adalah simpul pertukaran yang sekaligus memungkinkan adanya Penyedia Layanan Internet (ISP).

Node terakhir adalah Data Center yang merupakan pusat segala macam perlengkapan IT agar konektivitas jaringan dapat beroperasi dan mentransmisikan data para pengguna. Data center ini tidak hanya bisa dimiliki dan dipasang untuk setiap ISP, IXP dan LS, tetapi juga bisa untuk platform, firma atau institusi lain di luar itu dengan berbagai tujuan kepemilikanya. Dengan semua infrastruktur digital yang telah diinstal, pelayanan internet jadi bisa beroperasi dan tersedia konektivitasnya bagi pengguna melalui perangkat digitalnya masing-masing. Dalam kerangka besar seperti inilah kemudian bisa disebut sebagai industri Teknologi Infomasi dan Komunikasi/TIK (Information and Communications Technology/ICT).

Bagan Infrastruktur Digital dalam Industri ICT

Diagram jaringan yang menghubungkan antara pengguna dan platform pelayanan konten dengan perangkat digital masing-masing melalui ISP. Sumber gambar: https://www.pngwing.com/en/free-png-yxbnr/download.

Apabila sejarah internet ditandai dengan terkirimnya email pertama dari node #1 di UCLA ke node #2 di Stanford Research Institute pada tanggal 29 Oktober 1969 dalam projek penelitian akademis (Advanced Research Projects Agency Network/ARPANET) sebagai cabang Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang tidak berambisi langsung untuk komersil atau kebutuhan militer saat itu[4], maka internet sekarang ini merupakan hasil perkembangan jaringan kompleks secara komersil yang hingga tahun 2019 Bank Dunia mencatat ada “13,7 juta km kabel transmisi terestrial, 1,2 juta km kabel dalam laut dan stasiun pendaratanya, lebih dari 4 juta menara mobile, ~ 900 IXP dan ~ 400 pusat data skala besar yang merupakan internet global yang digunakan oleh hampir 4 miliar individu, ribuan bisnis dan hampir di semua pemerintahan” (Singh Sandhu, Himmat dan Siddhartha Raja 2019:12). Tak terkecuali di Cina dan Korea Utara. Walaupun dengan sistem raksasa internet tertutup (intranet) namun backbone kabel laut internasional tetap terhubung di sana[5].

Sumber gambar: https://www.submarinecablemap.com

Sejarah internet di Indonesia ditandai dengan protokol Internet (IP) pertama dari Indonesia, UI-NETLAB (192.41.206/24), yang didaftarkan oleh Universitas Indonesia pada tanggal 24 Juni 1988 dalam pelayanan provider CIX (Inggris) dan kemudian muncul penawaran lagi di tahun 1989 dari provider Compuserve (AS) bagi para pengguna lain yang baru tumbuh[6]. Dalam pertumbuhan awal pengguna internet di Indonesia tahun 1990-an kemudian dikenal sebagai paguyuban network karena para pelakunya yang mengedepankan kerja sama, semangat gotong royong dan rasa kekeluarganya. Barulah dalam perkembanganya kemudian suasana internet Indonesia jadi lebih komersil dan individual seperti dimulai dengan adanya ISP pertama bernama IndoNet.

Kini telah banyak ISP menawarkan berbagai pilihan layanan internet hingga ke backbone lokal banyak daerah di Indonesia. Selain itu, kita mendapati di antaranya infrastruktur jaringan backbone internasional sekaligus stasiun pendaratan di Indonesia yang termasuk ke dalam Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Southeast Asia-Middle East-West Europe 5 (SEA-ME-WE 5) yang terletak di Pantai Puak, Kota Dumai, Provinsi Riau[7]. Untuk backbone nasional, pada tahun 2019 Presiden Jokowi akhirnya berhasil meresmikan proyek mangkrak jaringan kabel serat optik sepanjang 12.148 kilometer bernama Palapa Ring yang dibangun mengitari seluruh wilayah NKRI dan menghubungkan banyak pulau[8].

Sumber gambar: https://www.kominfo.go.id/

Menurut sebuah artikel yang dirilis citizenlab.ca, “Indonesia tidak memiliki sistem infrastruktur Internet yang tersentralisasi dan memliki beberapa sambungan ke jaringan internasional”[9]. Artinya, bahwa backbone lokal/regional/nasional beserta nodenya dapat dimiliki banyak pihak sementara payung dari semua itu adalah Internet Exchange Point (IXP) yang menjalankan fungsi integritasnya hingga dalam arus global. Indonesia Internet Exchange (IIX) misalnya, IXP pertama di Indonesia yang dioperasikan termasuk olah para ISP terbesar di Indonesia dalam Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Sedangkan OpenIXP adalah IXP kedua di Indonesia yang dijalankan oleh Indonesia Data Center (IDC). Melalui Internet Exchange Point di Indonesia dengan demikian kita bisa mengetahui pihak-pihak penyelenggara aksesibilitas internet yang tergabung di dalam kesatuan wilayah infratruktur digitalnya dengan kepentinganya masing-masing. Itulah sebabnya juga kenapa misalnya di dalam APJII dengan lebih dari 900 anggotanya tidak hanya terdiri dari suatu perusahaan-perusahaan ISP yang komersil, tetapi juga berbagai perusahaan-perusahaan non-ISP lainnya dan lembaga-lembaga non-profit[10].

Sumber gambar: https://www.datacentermap.com/ixps.html

Referensi

Fuchs, Christian. 2014. “Exploitation at Foxconn: Primitive Accumulation and the Formal Subsumption of Labour” dalam Digital Labour and Karl Marx. New York: Routledge.

Singh Sandhu, Himmat dan Siddhartha Raja. 2019. NO BROKEN LINK: The Vulnerability of Telecommunication Infrastructure to Natural Hazards. Washington: The World Bank. http://documents1.worldbank.org/curated/en/951991560791754833/pdf/No-Broken-Link-The-Vulnerability-of-Telecommunication-Infrastructure-to-Natural-Hazards.pdf diakses 9 November 2020.


[1] Wikipedia, “Foxconn suicides”, https://en.wikipedia.org/wiki/Foxconn_suicides diakses 8 November 2020. Mengenai analisa tentang terjadinya eksploitasi kerja di Foxconn akibat akumulasi primitif dan pengambilan tenaga kerja formal lihat misalnya Christian Fuchs (2014:182-199).

[2] Agus Tri Haryanto, “Alasan Pemerintah Kepincut Lagi Balon Internet Google”, https://inet.detik.com/telecommunication/d-5115903/alasan-pemerintah-kepincut-lagi-balon-internet-google diakses 9 November 2020.

[3] “Faktanya, tidak banyak orang tahu kalau 97% komunikasi global dilakukan oleh kabel bawah laut di laut dan tidak melalui satelit seperti yang diyakini selama ini.” Dino Cano, “Twenty thousand cables under the sea: A brief history of submarine cable communications”, https://www.cerillion.com/Blog/August-2019/A-brief-history-of-submarine-cable-communications diakses 9 November 2020.

[4] UCLA, “The Internet’s First Message Sent From UCLA”, https://100.ucla.edu/timeline/the-internets-first-message-sent-from-ucla dan Timothy B. Lee, “40 maps that explain the internet”, https://www.vox.com/a/internet-maps diakses 9 November 2020.

[5] Submarine Cable Map, https://www.submarinecablemap.com/#/ diakses 9 November 2020.

[6] Marcel Rombe Baan (ed), “Sejak Kapan Masyarakat Indonesia Nikmati Internet?”, https://stei.itb.ac.id/id/blog/2017/06/19/sejak-kapan-masyarakat-indonesia-nikmati-internet/ diakses 9 November 2020.

[7] Bagus Ramadhan, “Dumai Jadi Landing Station Sistem Kabel Bawah Laut Dari Asia Tenggara Hingga Eropa”, https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/01/07/dumai-jadi-landing-station-sistem-kabel-bawah-laut-dari-asia-tenggara-hingga-eropa diakses 9 November 2020.

[8] Pingit Aria, “Palapa Ring, Jaringan Kabel Optik yang Jadi ‘Tol Langit’ Indonesia”, https://katadata.co.id/pingitaria/digital/5e9a4e5fca366/palapa-ring-jaringan-kabel-optik-yang-jadi-tol-langit-indonesia diakses 9 November 2020. Catatan: ada dokumen lain (https://docplayer.info/67857315-Indonesia-domestic-backbone.html) yang menunjukan backbone domestik Indonesia lengkap dengan perusahaan mana saja yang terlibat memilikinya namun sayang sekali hanya bisa dijadikan informasi awal sebab sumbernya tidak dapat diverifikasi lebih lanjut.

[9] “Pemaparan Infrastruktur dan Tata Kelola Internet di Indonesia”, https://citizenlab.ca/2013/10/igf2013-pemaparan-infrastruktur-dan-tata-kelola-internet-di-indonesia/#1 diakses 9 November 2020.

[10] “Anggota APJII”, https://apjii.or.id/anggota/index/910 diakses 9 November 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s